Showing posts with label Berita Terkini. Show all posts
Artefak di Mesum Gajah Menghilang

Museum Nasional atau dikenal dengan Museum Gajah di Jakarta Pusat kehilangan beberapa artefaknya. Hal ini diduga dikarenakan aksi pencurian. Berikut ini benda purbakala yang hilang tersebut:
1. Lempengan Naga
Diperkirakan telah berusia sejak 10 Masehi. Ditemukan di daerah Jalatunda, Jawa Timur, lempengan emas berbentuk naga ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Panjangnya 5,6 sentimeter dengan lebar 5 sentimeter.

2. Lempengan Bulan Sabit
Diperkirakan telah berusia sejak 10 Masehi. Ditemukan di daerah Jalatunda, Jawa Timur, lempengan ini juga merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Berbentuk lempengan bulan sabit dari emas dan di kedua ujungnya ada empat buah ukiran segitiga lancip. Segitiga ini seakan membentuk cakar. Di lempengan ini ada enkripsi jawa kuno yang sudah samar. Panjangnya 8 sentimeter dengan lebar 5,5 sentimeter.

3. Cepuk
Sama dengan Lempengan Naga dan Bulan Sabit, artefak ini diperkirakan berusia sejak 10 Masehi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Berbentuk seperti dandang kecil dengan tutupnya, cepuk ini terbuat dari emas dengan teknik pukul, pembengkokan, dan patri. Permukaannya tidak rata tapi kokoh dan tegak. Ada ukiran yang sudah tipis. Dasarnya agak cembung dengan bibir cepuk tajam dan menghadap ke atas. Tutupnya memiliki pegangan seperti stupa dan berongga. Diameternya 6,5 sentimeter dengan tinggi 6,5 sentimeter.

4. Lempengan Harihara
Ditemukan di Belahan, Penanggungan, Jawa Timur. Usianya diperkirakan sejak 10 Masehi. Dengan panjang 10,5 sentimeter dan lebar 5,5 sentimeter, lempengan ini dibuat dari campuran perak dan emas. Ada relief Harihara yang sedang berdiri di atas teratai ganda. Hirahara digambarkan berkucir ke atas dengan hiasan bunga mekar. Tangan kanan diletakan di atas tangan kiri di depan perut. Di belakang kepalanya ada hiasan sinar dewa dengan lidah api dan titik-titik. Lengannya mengenakan gelang motif bunga dan ada anting bulat. Kain yang dikenakannya sebatas lutut dan mengenakan sampur semacam selendang di kanan kiri.
Sosok Sengman Yang Disebut 'Utusan' SBY

Sengman Tjahja, yang disebut Ridwan Hakim putra petinggi Partai Keadilan Sejahtera Hilmi Aminuddin, adalah pengusaha kawakan. Bisnisnya dimulai dari Palembang.

Di kota itu, Sengman dikenal sebagai pengusaha properti. Situs berita www.tempointeraktif.com pada Juni 2005 pernah memberitakan kakek tiga cucu ini. Ketika itu Sengman menjadi Direktur Utama PT Bayu Jaya Lestari Sukses, pengembang kompleks terpadu Mal Palembang Square. Pembangunan properti ini merupakan bagian dari persiapan Sumatera Selatan menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional, September 2004.

Sengman juga disebut-sebut berhasil mendapatkan lahan seluas sekitar 4 hektare dari hasil ruislag, yang semula milik Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, di dekat Jembatan Ampera Palembang. Di lahan itu kemudian dibangun Palembang Square. Di kompleks bisnis itu juga ada Hotel Aston. Belakangan, kompleks bisnis itu dibeli oleh Lippo Group, dan nama Hotel Aston menjadi Hotel Aryaduta.

Banyak narasumber di Palembang menyebutkan Sengman mengenal SBY jauh sebelum menjadi presiden. Sengman merintis persahabatan sejak SBY menjabat Panglima Daerah Militer Sriwijaya pada 1996-1997. Ketika itu Sengman adalah pengusaha di Kota Pempek.

Juru bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, membantah adanya dugaan keterlibatan Presiden dalam kasus impor sapi yang tengah disidangkan. Sebelumnya, dalam persidangan Ahmad Fathanah pada Kamis lalu, dalam sebuah rekaman yang diperdengarkan dalam sidang, sempat disebut nama Sengman yang disebut sebagai utusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Yang pasti, yang kami ketahui bahwa tidak ada staf atau utusan yang terlibat dalam urusan impor daging yang sedang diproses di Pengadilan Tipikor saat ini. Saya jelaskan secara resmi bahwa tidak benar ada orang yang bernama Sengman yang berlaku sebagai utusan khusus," katanya di Istana Negara, Jumat, 30 Agustus 2013.

Mengenai nama Sekretaris Negara Dipo Alam yang juga sempat disebut dalam rekaman yang diputar di Tipikor, Julian mengaku tidak mengetahui hal tersebut. Ia mengaku mengetahui dugaan keterlibatan Dipo dari media massa. Julian berharap agar jangan sampai fakta atau bukti yang disampaikan dalam persidangan bisa mengubah persepsi mengenai suatu kasus tertentu dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
Jokowi Setujui Penggantian Nama Jalan di Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyetujui usulan yang disampaikan oleh Panitia 17 terkait penggantian sejumlah nama jalan raya di ibu kota.

"Iya, saya setuju kalau nama-nama jalan itu diganti dengan nama-nama pahlawan nasional. Itu usulan yang baik," kata Jokowi usai melakukan pertemuan dengan Ketua MPR RI Sidarto Danusubroto dan Panitia 17 di Gedung Nusantara III, MPR RI, Jakarta, Jumat.

Menurut Jokowi, penggantian nama-nama jalan tersebut dilakukan atas pertimbangan penghargaan kepada para pahlawan nasional, sekaligus dengan tujuan rekonsiliasi.

"Kita ingin membangun sebuah rekonsiliasi melalui nama-nama pahlawan itu, makanya saya setuju dengan usulan ini. Sekarang, rencana ini masih kita matangkan," ujar Jokowi.

Jokowi mengaku tidak keberatan jika penggantian nama-nama jalan tersebut harus dilakukan atas izin Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, yakni melalui Keputusan Presiden (Kepres).

"Jadi, nanti usulan dari Panitia 17 ini disampaikan ke Gubernur DKI. Kemudian, Gubernur membuat surat dan menyampaikannya kepada Presiden RI," tutur Jokowi.

Selain itu, Jokowi juga mengaku tidak keberatan jika nantinya penggantian nama-nama jalan itu berdampak pada perubahan kode pos, kop surat dan lain-lain.

"Kalau nanti ada yang harus berubah, ya tidak apa-apa. Itu kan konsekuensinya. Rencananya, sosialisasi nama-nama jalan yang baru ini akan mulai kita lakukan bulan depan, September 2013," ungkap Jokowi.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia 17 Jimly Ashidique menerangkan sejumlah nama jalan yang akan diganti itu, antara lain Jalan Medan Merdeka Utara menjadi Jalan Soekarno dan Jalan Medan Merdeka Selatan menjadi Jalan Mohammad Hatta.

"Sedangkan, rencananya, untuk Jalan Medan Merdeka Barat akan menjadi Jalan Soeharto dan Jalan Medan Merdeka Timur menjadi Jalan Ali Sadikin. Tapi, untuk kedua jalan ini masih kami matangkan rencananya. Ini masih belum keputusan final," tambah Jimly.

Kejadian yang menimpa Nadila Putri (13) warga Perumnas Pemda Lubukpakam, harusnya menjadi pelajaran berharga bagi orangtua yang membawa anaknya ke Kualanamu Internasional Airport (KNIA).

Saat terpisah dari rombongan pengantar kerabatnya yang akan pulang ke Jakarta, murid kelas 6 SD itu terjatuh dari lantai II Mezamin KNIA, sekitar pukul 17.15 WIB.

Nadila mengalami patah tangan kiri, dan luka di kepala bagian belakang. Saat korban akan dievakuasi ke rumah sakit, ternyata ambulans tidak tersedia di lokasi kejadian. Korban terpaksa dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil pribadi. Semula Nadila dievakuasi ke RSU Patar Asih Pakam. Akibat patah tulang yang dialami korban parah, Nadila dirujuk ke Rumah Sakit Spesialis Setia Budi Medan.

Pantauan Tribun, Kamis malam, bunda Nadila, Neng Mariati Hasibuan (40), syok menangis histeris di depan ruang Emergency RS Setia Budi Jl Masjid.

"Aduh kek mana anakku kak, aku mau lihat dia. Aku mau liat dia," ujar Mariati.

Sambil menangis dia berbicara kepada saudara-saudaranya. "Kasian kali anakku itu kak, kak anakku itu gimana," katanya Berulang kali kerabatnya berupaya menenangkan Mariati untuk makan. Namun tetap saja Mariati terisak.

"Sehatnya anakku itu? Dia itu suka teri yang kalian bawa inilah. Minta air putih ajalah aku. Aku mau lihat dia, suruhlah dokter itu ngobati anakku. Aku mau masuklah, dia itu suka kali sambel teri, dia itu jatuh didepan ku lah," katanya.

Kerabat Mariati terus berdatangan malam itu. Mereka berpelukan dan disusul jeritan tangis.

"Kita gak boleh masuk neng, makanlah kau, sudah berdoa saja, jangan lagi menangis, sedang diuji kita ini," kata kerabatnya.

Penti, kakak Mariati mengakui ponakannya dibawa ke rumah sakit menggunakan sedan. Dia belum mau menceritakan kronologis kejadian lantaran takut didengar Mariati yang membuatnya makin histeris.

"Kamis sebenarnya mau ngantar keponakan ibu, mau pulang ke Jakarta, penerbangan jam 7 malam sebenarnya. Cuma si Nadila ini main-main tadi di eskalator. Gak tahu persis aku gimana kejadiannya karena posisi dia (Nadila) di belakang aku tadi," kata Penti.

Dia mengatakan ponakannya adalah murid kelas 6 SD dan sedang menjalani operasi.

"Semalam diteleponnya aku disuruhnya beli bajunya. Jatuh dari ketinggian sekitar 3 meteran," katanya.

Personel kepolisian yang tidak mau namanya disebutkan mengatakan Nadila dievakuasi dengan mobil pribadi, akibat pihak medis lama tiba di lokasi kejadian.

"Ambulans di bandara ini gak ada, terpaksa naik mobil pribadi. Berdarah kepala anak itu kita lihat. Waktu jatuh di lantai kami memang dengar juga suaranya. Gak lama mamaknya menjerit histeris,'Anakku.' Di situlah semua orang kemudian mendekati anak itu," kata polisi ini.

Ia mengatakan sempat sekitar 10 menit korban tidak mendapat perhatian dari pihak bandara. "Mau nangis juga ngeliatnya, ibunya itu ya nangis aja kita lihat. Mudahan tidak apa-apalah anak itu," katanya.

Manager Service KNIA, Ali Sofyan mengungkapkan jika pihak Angkasa Pura II bersedia membantu biaya pengobatan Nadila.

"Yang jelas kita akan biayai pengobatannya, cuma belum tahu sampai atau sebatas mana. Ini saya rasa pelajaran juga buat orangtua yang membawa anaknya ke bandara, kita meminta agar lebih teliti untuk mengawasi putra putrinya. Kejadian ini sama sama kita tidak inginkan, sampai sekarang ini pengunjung bandara ini tetap saja membeludak," ujar Ali.

Ia mengakui ada ambulans di apron KNIA yang jaraknya 1,5 km dari lokasi korban.
Kata Keluarga Soal Tersangka Pembunuh Sisca Yofie

Keluarga Sisca Yofie menyerahkan pengusutan pembunuhan sadis salah satu anggota keluarganya itu kepada Kepolisian. "Kami belum jelas masalahnya (kasus Yofie). Kami serahkan ke yang berwajib saja," ujar Ardian, 50 tahun, kakak ipar Yofie, di eks rumah kos Yofie, di Jalan Setra Indah Utara, Kamis malam, 15 Agustus 2013.

Suami dari Nevi, kakak tertua dari Yofie, ini pun enggan mengomentari ihwal penangkapan dua tersangka pembunuhan si bungsu Yofie, yakni Ade Ismayadi dan Wawan. "Soal itu kami no comment dulu. Kami serahkan sepenuhnya kepada polisi,"kata dia.

Namun, Ardian memastikan keluarga besar sangat terpukul dengan meninggal dan tragisnya nasib Yofie. "Kami tentu sangat terpukul. Itu sebenarnya tak perlu ditanyakan lagi. Anda kan juga pasti terpukul kalau ada anggota keluarganya meninggal seperti itu," ujar dia.

Ardian mengakui selama ini keluarga tak tahu detil kehidupan pribadi Yofie. Namun, hubungan Yofie dengan keluarga besar baik-baik saja. "Kami tahu dimana Yofie terakhir bekerja, perusahaan leasing itu. Soal tempat tinggal selama ini Yofie memang hanya bilang tinggal di Cipedes, itu saja," kata dia.

Kamis petang, keluarga mulai mengambil barang-barang peninggalan Yofie di rumah pensiunan Kolonel TNI Angkatan Darat MP Sinurat di Jalan Setra Indah Utara II Nomor 11, Kecamatan Sukajadi. "Nantinya mau dipindahkan ke rumah keluarga di Pagarsih (Gang Pasantren, Jalan Pagarsih),"kata Ardian.

Barang-barang dari kamar Yofie tersebut diangkut dengan menggunakan satu mobil bak terbuka dan satu Kijang Innova. Pada tahap pertama petang, barang-barang yang diangkut antara lain pakaian, berkas, barang elektronik, dan lainnya. Pada tahap kedua saat malam, tempat tidur dan sisa barang lain yang belum terangkut sebelumnya.

Selain Ardian, saat proses pengangkutan barang ntampak dua kakak Yofie, yakni Nevi dan Silfie. Keluarga mendiang ini tampak sempat berbincang intens dengan tuan rumah.
Ahok Kucurkan Rp 30 Juta untuk Operasional Ahok Center

Center For Democracy and Transparency (CDT) atau lebih dikenal Ahok Center dibiayai oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Setiap bulan, diperlukan dana sekitar Rp 30 juta untuk operasional lembaga swadaya masyarakat itu. Dana itu diambilnya dari kocek pribadi Basuki.

"Berkisar Rp 30 jutaan lebih per bulan untuk biaya operasionalnya," kata Koordinator dan penanggung jawab CDT Natanael Oppusunggu saat ditemui di kantornya, Apartemen Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (15/8/2013).

Ia mengatakan, gaji tujuh anggota CDT dibayar sesuai upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta, yaitu Rp 2,2 juta. Sebelum Basuki menjabat sebagai anggota legislatif di DPR RI, lembaga itu telah resmi terbentuk, yakni pada 2007.

Sebagai pendiri bersama Basuki, Natanael mengatakan bahwa tujuan awal pembentukan CDT adalah melatih orang-orang jujur dan bersih yang bercita-cita menduduki kursi legislatif maupun eksekutif. Semua itu dibiayai oleh Basuki.

Tak sedikit dari mereka yang berhasil, banyak pula yang gagal. Setelah Basuki maju menjadi calon wagub pada Pilkada DKI Jakarta 2012 dengan berpasangan bersama Joko Widodo, LSM itu beralih fungsi menjadi posko pemenangan, selain posko yang berada di Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat.

Kini, setelah Basuki menjadi Wagub DKI, LSM itu bertugas mengawal dan mengawasi program-program Pemprov DKI yang sedang berjalan. Tak hanya itu, mereka juga menerima keluhan-keluhan warga dengan berbagai syarat. Laporan warga itu harus disertai KTP DKI, kartu keluarga, dan surat kelurahan. Mereka kemudian membantu memberikan pelayanan sosial kepada warga.

Natanael menyebutkan, karena selama ini masyarakat tidak tahu dan lebih tahu nama Ahok, maka CDT pun disebut dengan Ahok Center. "Sebenarnya sama, cuma masyarakat bingung CDT itu apa. Ada ibu-ibu, nenek minta bantuan, Ahok-Ahok saja lah, Ahok Center. Ya itu nama populer," kata Natanael.

Natanael menegaskan bahwa Ahok Center tidak berada di bawah bendera partai politik tertentu. Tempat yang dijadikan kantor ini merupakan bekas markas relawan Jokowi-Basuki. Mereka baru pindah ke Apartemen Juanda Lantai Dasar pada Mei 2012 atas pemberian seorang relawan Jokowi-Basuki bernama Hendry. Sebelumnya, markas mereka berada di depan Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, yang kini menjadi markas PKPI, partai politik pimpinan Sutiyoso.
Copyright © 2012 Info Terhanyar.